Minggu, 19 April 2009

Kak Seto dan Si Komo

Siapa dari kalian yang tidak mengenal kak Seto? seorang yang dulunya dikenal karena boneka Komonya, seorang yang konsisten terhadap gaya rambutnya, yang dicintai anak-anak, menjadi figur buat orang tua dan sekarang ini menjadi ketua komisi perlindungan anak di Indonesia. Sepanjang beliau merintis kariernya di bidang “pecinta anak”, beberapa kasus kekerasan maupun eksploitasi anak banyak yang ditangani oleh beliau dan hampir keseluruhan kasus tersebut mampu ditengahi dan diselesaikan oleh beliau. Seperti dalam kasus Riko Ceper yang memacari anak di bawah umur,Zarima sang Ratu Ekstasi yang menuntut hak asuh anaknya, kekerasan di sekolah antara senior terhadap juniornya, Syekh puji yang menikah siri dengan anak di bawah umur dan tuntutan Maya Ahmad terhadap suaminya yang Rockstar itu, Ahmad Dhani, karena mempekerjakan anak mereka sebagai artis sinetron.

Tidak usah diragukan lagi kemampuan Seto Mulyadi yang kerap kali kita memanggilnya dengan panggilan akrab kak Seto, dalam menekuni kariernya di bidang “pecinta anak”. Jelas semuanya terbukti secara tersirat di media yang menyimpulkan bahwa kak Seto lah duta bagi anak- anak yang tercerabut hak hidupnya.


Kak Seto memang baik seperti apa yang telah digembar-gemborkan oleh media, tapi beliau sedikit lupa atau mungkin juga malas untuk mengunjungi anak-anak yang terlahir dari keluarga yang miskin yang notebenenya jelas tidak populer. Mungkin beliau juga kurang suka jalan-jalan karena sampai saat ini aku tidak pernah melihat batang hidungnya di kawasan di mana saat ini aku tinggal untuk sementara, Jatinangor. Kawasan pelajar yang tak pernah sama sekali aku anggap sebagai kawasan yang mendukung dan memfasilitasi pelajar untuk mengembangkan daya belajarnya. Malahan aku menganggap sebagai kawasan kuliner karena banyaknya kedai makanan yang jumlahnya mampu menyaingi jumlah kamar kostan di kawasan Jatinangor.

***

Karena begitu banyaknya mahasiswa dan mahasiswi yang tinggal di Jatinangor, salah satu ide baik jika seseorang atau kelompok usaha mendirikan kedai makanan di kawasan ini. Biasanya dalam setiap kedai makanan yang saya singgahi, mempunyai beberapa pegawai yang siap melayani kebutuhan perut mahasiswa yang keroncongan guna meningkatkan percepatan produksi dan hasil dalam sebuah kedai makanan tersebut.

Biasanya hampir kebanyakan pegawai-pegawai yang dipekerjakan disini ialah anak-anak, yang kiranya berumur belasan tahun, baik laki-laki maupun perempuan, dan hampir kebanyakan pegawai tersebut diambil dari luar daerah seperti Garut, Tasik dan Sumedang. Baik kedai makanan yang buka setengah hari maupun yang buka 24 jam hampir keseluruhan mempunyai karakteristik yang sama dalam mempekerjakan pegawainya dalam hal usia yaitu: masih anak-anak dan remaja.

Alasannya pun sangat jelas kenapa kebanyakan dari mereka yang mempunyai kedai-kedai makanan khususnya yang buka 24 jam selalu mepekerjakan mereka. Alasannya sangat jelas, ialah karena upah kerja mereka murah.

Aku tahu upah mereka murah pun dari beberapa kawanku yang memang hobi ngopi atau sekedar numpang nonton bola. Makanya mereka banyak mengetahui gosip-gosip hangat di beberapa kedai makanan di Jatinangor. Seperti ada salah satu kedai makanan yang menggaji pegawainya hanya setahun sekali, disaat Lebaran tiba, sisanya hanya kewajiban pemilik kedai untuk membiayai kebutuhan sehari-hari mereka, makan dan rokok.

Sedangkan yang kuketahui sendiri mengenai kehidupan pegawai (yang sebenarnya masih butuh belaian orang tua ),yang bekerja di kedai-kedai makanan ialah sudah tidak adanya kesadaran penuh terhadap diri mereka sendiri. Jangan terlalu berpikiran jauh terhadap kesadaran penuh yang ku utarakan tadi, jangan jauh-jauh berpikiran yang kumaksudkan tadi ialah kesadaran penuh untuk memberontak. Yang kumaksudkan di sini ialah kesadaran penuh dalam hidupnya sehari-hari(cukup tidur). Karena sudah sering aku dapati mereka apabila aku sedang memesan makanan atau membeli rokok, mereka melayaniku dengan wajah yang lemas, mata yang merah dan acap kali selalu lupa terhadap apa yang aku pesan. Ini jelas mereka kurang tidur dan jika tidur pun menurutku tempat tidur mereka yang mereka singgahi juga tidak layak untuk dibuat tidur. Karena dari beberapa tempat yang biasa kusinggahi ada kedai makanan yang menyatukan antara dapur kedai dengan tempat tidur pegawai jadi secara langsung asap ataupun bebauan yang muncul dari dapur dengan mudahnya masuk kekamar mereka dan ada juga kedai makanan, antara kamar tidur pegawai dengan kamar mandi dipisahkan hanya dengan menggunakan sekat saja. Dan buatku hidup yang mereka jalani ini sungguh brutal,tidak menyedihkan melainkan sungguh brutal.

***

Saat ini apa mungkin si Komo mau mampir menjenguk anak-anak yang bekerja di Jatinangor, Apa jangan-jangan si Komo tidak akan pernah mau dateng ke Jatinangor, Apa jangan-jangan si Komo hanya menyediakan jasanya buat para orang tua yang bergelar artis dan konglomerat saja, Apa jangan-jangan si Komo banci kamera yang akan muncul dan menunjukan keberadaanya jika banyak kamera yang menyoritinya.


Disuatu saat pegawai-pegawai cilik pun berkata “ Kak Seto dan Komo mampir dong ke Jatinagor untuk melihat keadaan kita”
Kak Seto dan Komo pun menjawab” Lebok siah(makan tuh)”.

Padahal ini baru Jatinangor, belum daerah-daerah yang lainnya. Tapi sudah seperti ini jawabannya.Ckckck

Jumat, 06 Februari 2009

AKU INGIN BERCERITA

Diawal tahun ini ada beberapa hal yang tiba-tiba muncul dikehidupanku. Hal yang tiba-tiba, yang tiba-tiba mengakibatkan ketiba-tibaan lainnya muncul dan inipun lantas pada akhirnya menjadi pertanyaan buat diriku. Bagaimana hal yang datang secara tiba-tiba maupun yang datang apa adanya, aku harus memaknainya. Apa hal yang datang apa adanya dalam kehidupanku memang hanya suatu hubungan sederhana saja layaknya hubungan kausalitas atau mungkin hal yang datangnya secara tiba-tiba datang dalam kehidupanku suatu hal yang begitu monumental atau mungkin kedua hal tersebut harus kutertawakan saja.

Minggu, 26 Oktober 2008

DARI WANAYASA,CIATER DAN LEMBANG BERPINDAH TEMPAT MENUJU PANGANDARAN,CIJULANG DAN BATU KARAS

“Kau bunuh hatiku saatku bernafas untukmu” (Tega- Glen Fredly)


“Cause I need you,like a dragonfly wings need the wind, like the orphan needs home once again, like heaven needs more to come in. I need you here like always been” (priceless- copeland)



Tepat sabtu pagi kemarin aku pergi bersama teman-temanku menuju Purwakarta. Pergi kali ini aku sedikit malas dikarenakan tidurku sebentar pada malam sebelum keberangkatanku. Kepergianku kali ini sungguh biasa-biasa saja dikarenakan Purwakarta tak sanggup menghibur jiwa malangku ini.

Memang Purwakarta saat itu tidak mampu memberikanku kesenangan buatku. Dan pada awalnya aku kesal tapi aku dapat memaafkannya kali ini. Dapat kumaafkan karena ternyata dari tetangganya yaitu Wanayasa, Ciater dan Lembang punya inisiatif sendiri untuk menghiburku. Itupun pada awalnya menghibur.


Malamnya di Purwakarta aku dan teman-temanku memutuskan untuk pulang sebelum fajar tiba. karena intinya kita tidak mendapatkan hal yang baru disana. Kita pergi sesuai kesepakatan dan mulailah perjalanan pulang kita berawal. Pagi kala itu buatku begitu menyegarkan dan menyejukan. Karena terasa sekali begitu mesranya pepohonan,rerumputan dan kicauan burung menyambutku saat itu.Sudah begitu mesranya, aku juga dimanjakan oleh tarian kabut tipis yang menari-nari dipermukaan telaga.

Setelah setengah perjalanan pulang ternyata alam tidak bosannya untuk terus mengiringi kepulanganku. Kali ini matahari terbit dengan congkaknya. Sangat terang dan menghangatkan sehingga menambah kesan bahwa dirinyalah yang membuat disekelilingku tampak hijau dan memukau. Aku memuja semua yang kulihat dan kurasakan saat itu sampai-sampai aku berteriak dan membuat gema di setiap celah dan sudut tempat yang kulewati yang berisi rasa girang dan hilangku. Girang karena terpukaunya diriku melihat keindahan alam dan kehilangan karena wanita yang sangat kukasihi sudah tidak ada dalam pandanganku.

Dalam teriakanku rasanya waktu berputar kembali ke tangggal 6 September 2007. Ketika aku pergi bersamanya untuk bersenang-senang di alam terbuka. Yang ada disana hanya ada perasaan bahagia dari kita. Karena untuk pertama kalinyalah kita pergi keluar kota berdua.

Aku akui ingatan itu terpatri mantap di dalam ingatanku. Dalam semua hal yang pernah kita lakukan dulu disana dari hal yang romantis hingga hal yang bodoh. Jadi apakah kamu ingat kita pernah melakukan pembicaraan dengan seorang nenek yang dirinya termasuk salah satu korban dari amukan Tsunami yang selamat? Apakah kamu pernah ingat sewaktu kita tidak diberikan selimut di tempat penginapan kita lantas aku rela menjadikan tubuhku menjadi selimutmu di sepanjang malam tidur kita? Apakah kamu pernah ingat kamu dulu pernah semangat sekali memboncengiku dengan batrix lantas terlihat orang bahwa aku pria aneh, karena diboncengi,membawa tas wanita dan memegangmu sangat erat?apakah kamu pernah ingat kita menunggu matahari terbenam sambil ditemani pasir basah dan deburan ombak?apakah kamu pernah ingat ketika kita mengabadikan diri kita di pesisir pantai dengan menggunakan handphone bututku? Apakah kamu pernah ingat kita main ayunan? Apakah kamu pernah ingat kita dapat kemudahan dalam pembiyaan travel yang mengantarkan kita ke banyak tempat? Apakah kamu pernah ingat kita berkunjung ke tempat produksi gula merah yang bahan bakunya dari air nira? Apakah kamu pernah ingat kita melihat dalang yang pintar berbahasa Inggris itu memainkan wayang goleknya? Apakah kamu pernah ingat kamu mau menikah denganku di Green Canyon saat waktunya tiba nanti? Apakah kamu pernah ingat betapa kau terpukaunya melihat laju air yang terpantul sinar matahari sehingga seperti kaca bening kita melihatnya? Apakah kamu pernah ingat kita melihat ikan yang bisa hidup daratan? Apakah kamu ingat sesampainya di Batu Karas aku anggap pantai tersebut biasa-biasa saja? Apakah kamu pernah ingat aku terjatuh di karang lantas berdarah dan kamu hanya tertawa saja karena aku disitu terlihat bodoh? Apakah kamu pernah ingat kamu tidak membolehkanku minum bir saat itu? Apakah kamu pernah ingat disaat kedua orang bule itu makan kepiting saus tiram kita hanya makan bala-bala saja? Apakah kamu pernah ingat selama kepulangan kita kamu tertidur dari awal perjalanan hingga akhir perjalanan di pundakku?

Masih ingatkah kamu bahwa sampai saat ini aku masih mencintaimu, Mengharapkan datangnya kamu ke dalam dekapanku lagi?Masih ingatkah?

Kecerahan bintang yang tinggal sebongkah sisa gelap

“ Makhluk yang bernama Manusia itu agaknya gila. Ia mustahil menciptakan seekor ulat sekalipun, tapi ia menciptakan lusinan tuhan “ (Montaigne)



Euphoria tuhan yang didendangkan lewat tarekat-tarekat dan mistikisme lokal masing-masing daerah menurut ayahku muncul sewaktu era-era kolonial.Akibat dari ketidakberdayaan masyarakat dan ketiadaan materil yang mereka miliki. Mereka tidak punya pelipur lara buat dirinya lantas mereka melarikan diri dari kehidupan nyata dengan mencari sosok tuhan atau ratu adil yang selalu mereka percayai akan membantu keseluruhan hidup mereka.

Hingga saat ini warisan dari mereka yang terjajah dulu masih ada keberadaannya. Tapi, beda pemacunya, pemacunya saat ini ialah ketika baik seseorang maupun masyarakat mulai mapan dalam kehidupannya baik sandang,pangan,papannya tercukupi dan mempunyai banyak waktu luang maka dengan itulah mereka mencari sosok tuhan. Lewat kelas meditasi dan yoga di sebuah ashram, Ceramah dari kyai dan pendeta ditempat peribadatan dan wisata rohani ke Mekkah,Yerusalem dan kaki pegunungan Himalaya.

***

Asal mula aku tertarik terhadap spiritualitas ialah ketika aku duduk di bangku SMA. Saat itu aku selalu merasa diriku hampa dalam menjalani kehidupan. Padahal aku merasa diriku baik-baik saja. Uang jajan selalu ada di dompet,punya kekasih dan punya banyak teman. Tapi selalu saja gusar.

Karena hal itu aku tidak diam diri begitu saja melihat dan merasakan diriku seperti itu. Aku mulai mencari tahu. Awalnya aku mencari tahu dari buku. Hampir setiap harinya aku membaca buku yang berkaitan dengan permasalahan di dalam jiwaku. Dan hampir dalam setiap guratan yang tertulis di buku-buku tersebut aku terapkan dalam kehidupan harianku seperti meditasi, melakukan tarian Rumi dan puasa mutih. Awalnya aku sedikit puas tapi tetap saja tidak benar-benar puas. Aku merasa banyak mendapat kebaikan tapi tetap saja kegelisahan memburu diriku di setiap detiknya ketika aku menghirup dan membuang nafas.

Karena kegelisahan itu datang kembali aku memulai suatu perjalanan. Perjalanan yang membutuhkan tenaga, waktu luang dan uang pastinya. Perjalanan guna mencari orang yang sepemikiran denganku. Karena dengan perjalanan aku anggap, aku mungkin dapat mengenal lebih jauh sosok “diriku”.

Dalam perjalanan yang aku lalui saat itu, pada akhirnya memang aku mendapati orang yang sejenis diriku.Di berbagai tempat, baik di pedalaman maupun pesisir. Tetapi, tetap saja aku tidak puas dan masih tetap tidak bisa mengenal “diriku”, lagi-lagi diriku masih gelisah tak menentu. Hampir gila rasanya aku terbawa oleh perasaan ini. Seperti kita yang sedang berada di dalam perahu yang terombang-ambing ditendang kesana-sini oleh ombak yang begitu deras. Tidak ingin bunuh diri tapi juga tidak tahu apa yang harus dilakukan kedepannya.

Resah yang mendera jiwaku ini hampir selama 6 tahun kurasakan.Karena antara apa yang kupikirkan dan yang kualami tidak berkesinambungan geraknya. Hingga pada suatu saat ketika aku mulai berani menjelaskan permasalahanku dengan orang yang tidak sejenis dengan diriku tapi aku percaya dengan orang tersebut, aku malah mendapatkan pencerahan.

Pencerahan yang bukan berarti dia memberikanku wejangan terhadap hidupku melainkan justru dia mengobrak-abrik apa yang selama ini aku pikirkan mengenai “diriku” dan alam semesta. Anggapan yang pada mulanya membuatku terus berpikir tentang keberadaanNya sekarang sudah mulai aku biarkan begitu saja. Kubiarkan agar hidupku yang begitu singkat ini tidak termakan oleh hal yang bersifat imajiner.

Aku yakin keputusanku kali ini tidak menimbulkan dosa karena seandainya Dia Maha Tahu. Dia pasti sudah tahu kenapa aku memutuskan untuk tidak memikirkanNya. Pun jikalau Dia ada, aku juga sudah ditolak mentah-mentah untuk mengenal Dirinya, tidak ada pun sekarang jatuhnya aku tidak khawatir untuk meneruskan hidup.

Toh dengan keputusanku saat ini sekarang aku jadi lebih leluasa dalam menjalani hidup,lebih fokus dan tidak gusar lagi.

***

Sampai sekarang ayahku punya anggapan tersendiri terhadap individu-individu ataupun kelompok yang menggeluti dunia spiritual saja. Ayahku selalu menyampaikan kepadaku bahwa orang-orang tersebut ialah orang-orang yang lemah dan kalah. Karena pesan beliau aku jadi teringat di Rusia. Ketika kekaisaran Tsar memegang tampuk kekuasaan banyak sekte-sekte agama bermunculan, yang percaya akan turunnya sosok tuhan dengan wujud yang nyata. Entah apa itu buatan pemimpin sekte yang sudah bingung menampung kegelisahan jemaatnya yang terintimidasi oleh kekaisaran Tsar atau mungkin tuhan itu sendiri mewujud menjadi Lenin yang gagal dalam memaknai ajaran Marx yang sebenarnya?.

Senin, 22 September 2008

KUKENAKAN DUKAKU KEMARIN KULEPASKAN HARI INI JUGA DIA,TIDAK KUBUANG TAPI KU GANTUNG DIBELAKANG PINTU



Aku tidak bisa membantu kamu tapi aku yakin kamu kuat untuk menyelesaikannya”

Queen of the freak dance

“kamu terlalu ideologis, parah banget kamu po”

Tank Boy / political Hooligan

“buang targetan itu lalu hidup, makan, tidur”

Abdul Karim Al-Jabbar / Zorosastrowardoyo



Hampir dua minggu belakangan ini aku tidak bisa tidur, nafsu makan juga tidak ada. Kamar kost-an ku berantakan, baik debu maupun abu rokok bertebaran dimana-mana, buku-buku begeletakan tidak sesuai pada tempatnya.Buku-buku bergeletakan juga bukan berarti aku membaca buku tersebut hingga selesai melainkan aku hanya membacanya puluhan lembar, menutupnya kembali dan mencari buku lain.Aku merasa aneh dan aku bertanya dalam hati” apa yang menyebabkan diriku seperti ini?”. Selama dua minggu aku terus bertanya dalam diriku, aku juga berusaha mendiagnosa penyakitku lewat obrolan dengan teman-temanku. Dan aku mulai sedikit demi sedikit mendiagnosa penyakitku.

Aku baru ingat selepas aku dari Purwakarta aku banyak menargetkan sesuatu terhadap hidupku. Aku mau ini dan itu. Aku sangat semangat sekali untuk memantapkan targetan tersebut. Beberapa hari berjalan aku masih bisa menjalankan semuanya dengan semangat dan tentunya tidak lupa juga aku membanggakan targetanku kepada teman-teman di lingkarku. Pada awalnya semua berjalan sesuai dengan apa yang aku harapkan tapi seiring berjalannya waktu aku merasa tertekan oleh targetan itu. Aku malah berpikir sepertinya targetan mengenai hidupku bukan aku yang membuatnya karena aku merasa mendapat tekanan disaat menjalaninya, Aku sangat bingung kala itu.

***

Tank Boy salah seorang kawan di lingkarku yang mungkin sudah melihat perkembangan diriku dari SMA hingga di bangku kuliah. Memang seorang kawan yang terkadang aku mintai pendapatnya mengenai diriku.Dia berkata mengenai permasalahanku bahwa aku terlalu memikirkan tujuanku atau targetanku. Tanpa berpikir “kendaraan” apa yang akan aku gunakan untuk sampai di tujuanku. Aku memang sudah mulai menyicil dalam membuat sebuah “kendaraan” tapi kekuranganku apabila dalam proses perakitan tersebut aku mudah sekali tergoda untuk merakit sebuah “kendaraan” lain dan pada akhirnya dari suatu kekonyolan yang aku buat sendiri akibatnya ialah “kendaraan” yang aku rakit semuanya tidak ada yang selesai dan tujuanku tetaplah sebagai tujuan tidak pernah sampai “ketempat” tersebut dan buatku pribadi hal seperti ini menjadi salah satu penyakit kejiwaanku.

Memang, walaupun pedas perkataannya apabila Tank Boy mengkritik diriku tapi tetap saja aku menerimanya. Sampai-sampai Aku pernah berkata dengan dia “memang dunia ini buat orang-orang yang berani,berani dipermalukan oleh dirimu”, dia menanggapi dengan tegas “saya berusaha jujur terhadap diri saya”. Maka oleh karena hal itulah yang membuatku menerima baik dan buruknya diriku lewat pikiran dan perkataannya.

***

Berminggu-minggu aku di kamarku. Aku sudah bosan melihat kamarku yang berantakan, aku bosan menghirup wangi dupa yang tiap kali aku bakar disaat aku bermeditasi dan aku juga bosan memandangi wallpaper di komputerku yang menampilkan Madonna telanjang sambil mencium lelaki berambut panjang terurai.

Aku memutuskan untuk pergi. Aku pergi bersama wanita cantik. Dia cantik karena dia baik dan pemarah. Pada malam itu kita berdua memutuskan untuk makan malam. Aku dan dia tidak berdua pada malam itu karena tak disangka temanku juga sedang berada kawasan yang sama denganku. Teman yang sempat aktif di dalam gerakan revolusioner yang sekarang ini bekerja di Komisi Penyiaran Indonesia. Pada waktu itu kita makan malam bersama dan berceritera banyak hal. Watak kerasnya tak berubah apalagi tatapannya apabila mengutarakan sesuatu tapi yang berubah di dirinya menurutku ialah tujuannya.tujuan yang berbeda dengan tujuannya sewaktu dia aktif dulu dalam pergerakan, mungkin.

Pada malam itu aku merasa nyaman, bukan obrolanku bersama temanku tetapi bersama wanita itulah aku nyaman. Aku sangat menghargai dirinya kala itu, apa yang dia perlakukan kepadaku saat itu benar-benar luar biasa sekali artinya.

Setelah seharian penuh aku bersamanya aku memutuskan untuk kembali pulang kekost-an ku. Sesampainya kembali dikost-an, aku memaksakan diriku untuk tidur cepat karena esok harinya aku harus bangun pagi karena pada pagi itu aku dan temanku berniat pergi ke Kuningan dan Cirebon. Hanya untuk jalan-jalanlah tujuan kita kesana. Kita pergi kesana hanya berdua karena buatku jika pergi beramai-ramai intensitas kita berkomunikasi dengan orang lain berkurang bahkan tidak ada dan itu menurutku membosankan. Sama saja bohong apabila kita pergi kesuatu tempat yang baru tapi pembicaraan yang kita bicarakan itu-itu saja dikarenakan kita pergi bersama kawan-kawan kita.

Sesampainya disana kita mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Buatku itu sesuatu hal yang menyenangkan ditambah lagi dengan obrolan ringan dengan kuli angkut disana,preman di terminal hingga pelacur yang menggodaku dan temanku disaat kita berdua sedang asyik menyantap makanan kita.

Setelah kita merasa lelah karena banyak tempat yang sudah kita kunjungi , kita memutuskan untuk pulang.Dalam perjalanan pulang aku senyum-senyum sendiri karena aku berpikir bahwa aku sampai ditujuanku di karenakan aku sudah tahu kendaraan apa yang akan aku naiki. Kendaraan yang sudah siap berangkat mengantarkan diriku ketujuanku. Tujuan yang membuatku bahagia tentunya. Dalam senyumku aku berpikir semoga saja perjalanan hidupku semudah perjalananku menuju Kuningan dan Cirebon.

Jumat, 12 September 2008

Surat dariku untuk kalian



Surat ini kutunjukan buat kalian yang selalu membuat diriku menjadi atau tampak jauh lebih kuat. Buat kalian yang selalu rela membukakan pintu rumah dan kostan-nya hanya demi mendengar ocehan dari mulutku.Dan juga buat kalian yang selalu membagi kegelisahan hidupnya kepadaku. Karena kalianlah aku benar-benar merasa hidup. Karena kalian jugalah aku merasa bahwa hidup ini harus dimaknai dan dihargai sepenuhnya.


-Amorfati-




Hidupku pada bulan Juli hingga Agustus



Diawal bulan Juli 2008 kumulai kehidupanku tinggal di desa yang cukup pelosok,kenapa aku bilang desa pelosok karena jarak tempuh kita dari kota ke desa tersebut cukup memakan waktu.Desa itu bernama desa Pondok Bungur tepatnya di kawasan Purwakarta. Aku pergi kesana bukan untuk liburan bersama teman-teman lamaku melainkan karena tugas kuliahku yaitu menyelesaikan program ini.Program kuliah kerja nyata.


Hari pertama, seperti biasanya aku harus beradaptasi dengan lingkungan yang baru kukenal,khususnya tempat dimana aku tidur. Pertama aku tidak bisa tidur di tempat di mana bantal,guling dan kasurnya tidak pernah aku kenal dari warna,bentuk dan aromanya. Kedua selalu saja aku punya masalah apabila aku mencoba tidur di tempat orang lain selalu saja aku batuk-batuk. Bukannya alergi pada tempat yang kotor, ditempat tidur yang bersih saja apabila aku mencoba tidur selalu saja aku batuk-batuk jika aku tidak mengenal medan tersebut.


***


Di desa itu aku bersama teman-temanku tinggal menumpang dirumah seorang nenek yang dirumahnya juga ditingali oleh anak dan cucunya.Rumah yang cukup luas karena baik dari kursi,meja hingga perabotan sama sekali tidak mereka punyai.Nenek tersebut dan anaknya bekerja sebagai petani. Petani yang mempunyai tanah.


Pada awalnya banyak hal yang tidak aku dan teman-temanku ketahui mengenai desa itu tapi lama kelamaan kita jadi mengetahui itu semua dikarenakan kita sering mendapatkan info dari nenek itu dan anaknya lewat obrolan ringan. Makanya aku beranggapan semua yang kita lakukan berangkat dari rumah nenek yang aku dan teman-temanku tumpangi dari rapat program sampai program yang diluar program kelompokku seperti berenang disungai,menyusuri lembah dan hutan hingga pergi ketempat orang “pintar” hanya sekedar untuk iseng saja.Membunuh waktu kata teman-temanku


***


Hari demi hari aku lalui tak terasa bahwa sudah dua bulan aku menetap di desa itu.Selesai sudah program kelompokku di desa itu. Satu beban terselesaikan tapi tiba-tiba beban yang lain datang menghampiri hidupku. Di hari kepulangan kelompokku aku merasa berat sekali untuk meninggalkan desa itu.Karena banyak hal yang aku cintai disana. Sungainya,sawahnya, udaranya,langitnya, nasinya, dan tentunya keakrabannya. Hingga pada akhirnya yang aku dapat luapkan pada saat itu ialah membiarkan diriku menangis,menangis layaknya anak kecil yang di ajak ibunya untuk pindah rumah karena rumah yang ditinggali oleh anak kecil tersebut habis kontraknya.

***


Aku memeluk satu per satu orang yang aku cintai disana, setiap langkah demi langkah menuju kepulanganku aku berkata dalam hati untuk berpamitan dengan alam sekitar. “Aku pulang, terima kasih sudah menerimaku dan mebahagiakanku” dalam hatiku aku berkata. Dalam perjalanan pulang kupotret semua hal yang ada disana, baik dan buruknya.Kulihat dalam pikiran lalu kusimpan di album kehidupanku.


***


Aku akan merindukan semua hal di tempat itu termasuk juga omelan pagi hari yang selalu didendangkan oleh ibu itu. Yang selalu juga berkata kepadaku dan kawan-kawanku ”sare wae,salat subuh atuh! Tong jiga korodok!”(tidur mulu,salat subuh dong! Jangan kayak kodok!). Walaupun aku dan teman-temanku tidak pernah mau bangun untuk salat tapi kita selalu menanggapi beliau dengan kentut. Kentut yang bersuara. Bukan salat melainkan kentut. Beliau tidak marah sama sekali malah apabila kita sudah bangun dan bercakap-cakap dengan beliau, beliau Cuma berkata “kalian ternyata sehat soalnya kalo pagi kentutnya nyaring suaranya”. Aku tidak tahu artinya tapi aku hanya menanggapi beliau dengan senyuman saja.


Sesampai dikosanku, pada malam harinya aku mau tidur, tidur menggunakan sleeping bag yang biasa aku gunakan disana, bukan tidur di spring bed kepunyaanku. Aku merebahkan badanku dan mulai membuka album kehidupanku dari bulan Juli hingga Agustus.Aku tertidur. Tidur yang begitu indah buatku. Indah, layaknya lansekap yang sering kulihat di tempat itu. Ya, desa itu.